Kepercayaan mahal harganya. Sering banget denger kalimat ini tapi baru tahu 'rasa' dan efeknya sekarang. Sehubungan dengan posting ini, saya ingin merefleksikan sesuatu yang tengah dan telah terjadi beberapa minggu ini.
Jadi beberapa minggu yang lalu, ada orang yang bekerja di tempat saya, sebut saja A. si A mencuri sesuatu, dan ketahuan. Dan diduga, si A ini pernah mencuri juga, mungkin beberapa kali, tapi ini masih dugaan sih, namun kalau dari pengakuan yang lainnya, dugaan mengarah ke A sebagai pelakunya. Saya nggak ingin nuduh dulu kalo belum ada bukti. Namun pada hari itu, si A ketahuan. Kemudian, si A dan yang lainnya kita ajak duduk bareng, diskusi tentang masalah ini. Ervan juga tentunya ikut, dia yang menengahi. dari duduk bareng itu diperoleh janji bahwa si A akan memperbaiki kesalahannya dan tidak mengulangi hal itu lagi.
Oh ya sebenarnya masalah si A itu tidak hanya tentang pencurian, namun ada masalah-masalah lain yang sepertinya kurang enak kalau dijelaskan di sini.
okay, skip.
sekitar beberapa minggu dari peristiwa duduk bareng berkenaan dengan masalah si A, si A mengulangi kesalahannya. duh, padahal saya sudah belajar memercayai A lagi. dan Ervan pun memberi kesempatan untuk masih bekerja. Namun kali ini saya kecewa sekali kenapa dia seperti itu. si A pun masih berhutang beberapa duit, dan sebenarnya dia sudah berjanji untuk mengembalikan, namun sudah 2 kali mundur, karena saya dan ervan masih memberi kesempatan. Namun untuk yg terakhir, karena kami juga membutuhkan uang, kami berusaha menagihnya, bahkan sampai ke rumahnya, itu pun masih mundur lagi pengembaliannya. dalam usaha penagihanpun, cukup alot krn dia susah dihubungi dengan berbagai macam alasan dll.
apa yang si A lakukan membuat kami kecewa, namun hebatnya, Ervan masih memberi kesempatan dengan alasan belum ada pengganti. Namun saya tidak bisa mentolerir lagi apa yang dia lakukan karena kesempatan sudah diberikan berkali-kali dan kasus pencurian ini pun tidak kami laporkan yang berwajib, karena kami masih iba dengan keadaan keluarganya. saya menyarankan untuk mencari pengganti dia saja dan saya akan turun tangan jaga langsung hingga kami memperoleh pengganti A.
di sini sebenarnya, saya nggak tega, namun dalam kerja harus profesional dan ini dilakukan agar tidak menjadi duri dalam daging, dan bisa saja duri membusuk hingga membuat daging2 di sekitarnya membusuk.
saya jadi mikir lagi, teringat quote yang saya sebutkan pertama bahwa sekarang susah banget untuk memercayai si A.
jika ditarik hikmahnya, saya berharap, kelak saya tidak merusak kepercayaan orang lain kepada saya, (Amin) karena saya sendiri pernah merasa kepercayaan saya dikhianati. berdasar apa yang telah saya rasakan, mungkin saya dan ervan masih memberi kesempatan, namun bila kesempatan itu tidak dipergunakan sebaik-baiknya, malah akan lebih mahal lagi harga kepercayaan itu.