Sabtu, 25 Mei 2019

Belajar dari Mahasiswa

Menjadi dosen sungguh menyenangkan... walaupun sibuk namun kami tiap hari berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa yang sangat menarik, menyenangkan dan menyebalkan hehehe. Pada postingan kali ini, saya mau menceritakan apa yang saya alami saat saya sedang bimbingan akademik. Ada seorang mahasiswa, sebut saja Mawar yang beberapa hari yang lalu ingin bertemu saya karena ingin curhat tentang masalahnya. Jadilah kami bertemu di suatu pagi, sebelum si Mawar kuliah sesi 2. Aku bertanya masalah apa yang mengganggu pikirannya dan Mawarpun menjawab. "Saya merasa lelah Bu". Dia bilang ini sambil menangis, dan lucunya saya pun ikut menangis. Saya menerka-nerka apakah karena masalah kuliah, atau masalah pencalonan si Mawar ini jadi salah satu kandidat ketua himpunan. dan ternyata penyebab dia merasa tertekan adalah tentang pencalonannya tersebut. Untuk masalah kuliah sih dia tidak ada masalah, karena saya tahu dia anak yang pintar dan rajin. Dia juga cukup aktif di kelas. Mawar bilang dia tidak suka hal-hal berbau kampanye. Lalu mengapa dia bisa mencalonkan diri jadi ketua ya?
Dia bilang kalau waktu ditawari jadi ketua himpunan, dia dalam posisi senang, jadi tidak banyak pertimbangan saat mengiyakan tawaran tersebut. Nah, pelajaran pertama: Jangan asal membuat keputusan saat hati terlalu senang atau hati terlalu marah, karena biasanya kita jadi enggak benar-benar mempertimbangkan keputusan tersebut dengan matang. Trus gimana dengan si Mawar? Nasi sudah menjadi bubur. Hadapilah yang ada dan jadi pilihan ya.. Namun saya penasaran juga sih, ketika Mawar SMA apakah dia juga aktif berorganisasi? karena kalau sudah berpengalaman sih, tidak akan terlalu susah untuk beradaptasi. Ternyata di jaman SMA si Mawar aktif lho, dia jadi sekretaris sebuah organisasi keagamaan dan dia cerita bahwa ketika dia ditunjuk jadi sekretaris itu pun sebenarnya dia tidak dalam keadaan siap. Dia pun tidak ada yang ngajari bagaimana seharusnya menjadi sekretaris. Namun dia bisa menjalani kewajibannya tersebut dengan baik. Nah.. saya langsung bilang "Tuh kan udah pernah bisa". Saya pun langsung menyemangati Mawar dengan bilang bahwa saya yakin dia bisa mengemban amanah jika nantinya terpilih jadi Ketua. Karena sudah terbukti di SMA dia bisa. Tidak hanya organisasi keagamaan tsb sih, katanya ada beberapa pengalaman organisasi lainnya. Pelajaran kedua: Pengalaman itu penting! Berikutnya saya bilang, "toh penghitungan suaranya kan masih besok, kenapa kamu berpikir terlalu jauh? yang ada sekarang pikirkanlah sekarang". Saya berusaha menenangkan dia dengan bilang, kita tunggu hasil penghitungan suara dulu, belum pasti juga dia yang terpilih. Saya jg menenangkan dia dengan bilang bahwa ketika seumuran dia, saya tidak sekuat dia. Saya pernah terikat pada organisasi dan ketika saya punya kesibukan lain yang saya anggap lebih penting dan urgent saat itu, saya memilih satu yang akan saya fokuskan, tentunya dengan ijin terlebih dahulu kepada organisasi tsb. Selain itu waktu saya bekerja, saya pernah memilih untuk resign saat saya mengerjakan tesis, karena saya merasa saya tidak bisa mengerjakan dua hal secara bersamaan dengan maksimal. Namun Mawar tidak, hati kecil saya bilang bahwa Mawar lebih kuat dan itu yang saya yakini serta serukan berulangkali kepada Mawar. Saya bilang juga bahwa saya percaya jika dari SMA dan sekarang kuliah saja Mawar sudah mendapatkan kepercayaan dalam organisasi,  ke depannya saya bisa lihat Mawar dalam tahun-tahun ke depan saat dia berkarir, Tuhan pun tak akan ragu berikan kepercayaan kepada Mawar. Saya percaya. Saya minta dia ingat ucapan saya ini ketika besok dia benar-benar mendapatkan kepercayaan itu. Pelajaran ketiga: Setialah dalam perkara kecil, maka Tuhan akan berikan perkara besar kepadaMu. Akhir kata saya bilang agar Mawar selalu semangat dan saya akan selalu dukung dia. Jadi jangan ragu untuk cerita masalah apapun ke saya..

Keesokan harinya...
Mawar pun menghubungi saya dan menunjukkan foto hasil penghitungan suara... Dan tahukah Anda bahwa Mawar benar-benar terpilih sebagai ketua. Wow... Kemarin pagi sebenarnya saya sempat berfirasat bahwa mungkin saja Mawar bisa menang. Dan ternyata benar.. saya ucapkan selamat buat dia. Saya bilang, "Kita harus ada sesi curhat kedua nih.. hehehe". Saya berpesan ke dia supaya dia bisa menempatkan orang-orang yang tepat menjadi bawahannya, yang kira-kira bisa diajak bekerja sama dengan dia. Bukan bermaksud mengesampingkan yang tidak bisa ya, tapi waktu yang dibutuhkan untuk adaptasi agar lebih cepat dan himpunan dapat segera bekerja dengan baik sesuai dengan proker yang mereka usulkan. Saya rasa dia lebih paham untuk urusan ini. Sekali lagi selamat Mawar, tanggung jawab yang besar menantimu. Selalu persembahkan yang terbaik ya... :))

sekian dari saya,

Senin, 08 April 2019

Males mengerjakan apapun


Pernahkah kamu dihinggapi rasa malas yang begitu kuat yang membuat kamu bener-bener mager untuk ngapa-ngapain?
Di hidup saya yang ke-27 tahun di dunia ini saya merasa makin sering dihinggapi perasaan seperti itu. Entah kenapa sekarang kalau pulang kantor bawaannya lelah dan jenuh. Rasanya setelah sampai rumah tidak ingin mengerjakan sesuatu yang berat-berat.
Rasa seperti ini sebenernya justru menyiksa saya, karena biasanya saya punya target pribadi. Walaupun target pribadi itupun sering tidak jelas. Kadang saya tulis dalam to-do-list kadang hanya di otak saja. Tentunya dengan resiko kelupaan :D
Tiba-tiba saya teringat dari seorang selebgram yang membuat scheduling di jurnalnya. Saya jadi kepingin ngikutin juga, cuma ragunya adalah apakah saya akan konsisten mengisinya? Adakah dari kalian yang membuat scheduling?


sekian dari saya,

Sabtu, 06 April 2019

2018 dan 2019

Akhirnyaaaa... aku membuka blogku lagi. Aku hampir lupa kalau masih punya blog, dan sedihnya sekarang hanya setahun sekali aku mengetikkan sesuatu di blogku ini. Miris juga makin lama tulisanku makin pendek. Akupun tak yakin ada yang membaca blogku ini, saking jarang ada apdet. Tapi memang blog ini dibuat sebagai sarana menitipkan beberapa memori yang akhirnya jika aku lihat lagi isinya (flashback), aku bisa melihat pola pikir dan pandanganku terhadap diriku dan apapun yang terjadi di kehidupanku saat itu. Jadi bersyukur banget pernah menuliskan keluhan-keluhan, kebahagiaan, cerita, dan hal-hal lain dalam blog ini.

Malam ini, eh bukan, pagi ini kutulis lagi post pertama di 2019 ini di sebuah cafe. Tentunya setelah sedikit mengerjakan to-do-list yang seabrek-abrek dan gak abis-abis. Agak telat juga kalau mau buat kilas balik 2018 karena sudah agak lupa. Namun 2018 itu tahun yang hebat. Banyak perasaan yang membuncah di situ, mulai dari sedih, senang, bangga, dan perasaan-perasaan hebat yang lain. Di tahun 2018 aku belajar tentang penerimaan. Menerima diriku sendiri. Menerima segala kekuranganku yang beberapa diantaranya bagaikan jackpot. Bukan karena membahagiakan tapi lebih karena mengagetkan. Di tahun ini pun aku bersyukur karena aku resmi diakui sebagai dosen secara nasional :D Puji Tuhan, ini to jalan Tuhan... aku baru paham sekarang kenapa hidupku sebelum ini sempat dibelok-belokin oleh Tuhan. Di tahun ini aku belajar bersabar juga. bersabar dengan orang-orang di sekitarku dan bersabar dengan proses yang sedang aku jalani.

Dannn ada hal yang aku banggakan tahun ini, 1 resolusi dari beberapa tahun lalu tercapai. Apakah itu??? KURUS!!! Yeaaaay... Kenapa aku seneng banget? Proses kurusku ini susahhh banget. Butuh pengorbanan selama berbulan-bulan, namun akhirnya berbuah manis. Di tahun ini pula aku juga belajar mencintai tubuhku lebih baik dengan lebih bertanggung jawab atas makanan apa yang yang masuk ke perutku. Mengubah beberapa pola dan menu makan dan hasilnya sekarang terlihat! Tidak hanya aku yang merasakan, namun orang-orang di sekitarku juga menyadarinya! Sangat membahagiakan.. Tahun 2018 juga merupakan tahun di mana aku mendapat sebuah kewajiban baru. Menciptakan sebuah jurnal untuk prodiku, dan Puji Tuhan, sekarang sudah mau terbitan ketiga. Luar biasa! Tanpa bantuan Tuhan, itu semua tidak akan terlaksana. Aku bahkan tak percaya aku bisa melewati semua tantangan yang awalnya membayangkannya aku pun tak kuasa.

Puji Tuhan, terimakasih 2018! Clara terlahir kembali... dengan semangat baru...

Di awal 2019 aku meneruskan apa yang sudah aku mulai di 2018. Apapun itu, kesehatan, kewajiban dan lain-lain. Namun namanya mempertahankan kurasa lebih susah dari memperoleh. Sekarang aku berharap aku bisa sekonsisten aku di 2018. Aku beritahu, menjadi konsisten itu melelahkan. Dan menjemukan! Namun aku yakin, sebenci-bencinya aku dengan konsistensi, aku tidak bisa mengelakkannya.

2019 sepertinya akan menjadi tahun yang penuh kejutan. Akan ada visitasi akreditasi dan kewajiban baru yang menungguku. Aku pun sempat menggila pada awal tahun ini karena ada beberapa aktivitas yang kujalani dalam satu waktu. Aku mencoba untuk menembus batas diriku. Ingin tahu seberapa kuat aku bertahan pada sebuah rutunitas yang berguna tapi membosankan.

Ada beberapa keinginan untuk tahun ini, tapi biarlah hanya aku dan pencipta yang tahu.
Akhir kata, selamat menjalani 2019 dear Clara yang terbarui! Ingat, kamu sudah semakin dewasa walaupun masih kekanak2an.... Aku bangga dengan Diriku! Aku berharga! Tiada seorang dan sesuatupun yang bisa bikin kamu down! Karena kamu kuat!


sekian dari saya,

who follows me