Senin, 05 Januari 2009

CLARA DI OSN MAKASSAR VII (catatan perjalanan)

mungkin telat banget postingnya... tapi tak apalahhh...
baca yeee... asiggg nehhh... artikel ini juga terbit di MAJALAH TIFA LOhhh...













Dalam perhelatan Olimpiade Sains Nasional VII 2008 di Makassar, Sulawesi Selatan yang telah dilaksanakan pada tanggal 8-14 Agustus 2008, saya Clara Hetty Primasari, menjadi salah satu siswa yang sangat beruntung dapat mengikuti even tersebut. Ini adalah pengalaman pertama saya menjadi peserta dari even tahunan nasinonal yang mengumpulkan seluruh pelajar terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Inilah kisah saya.


Setelah menjalani seleksi OSN tingkat kabupaten dan provinsi yang berlangsung bulan April dan Juni lalu, akhirnya, saya berhasil menjadi salah satu wakil Jawa Timur dalam mata pelajasran kebumian(geosains).

Sekitar pukul 05.00 WIB ssaya bersama seluruh kontingen Jawa Timur terbang dari bandar Juanda, Surabaya (setelah sehari sebelumnya transit di Hotel Utami, Surabaya) menuju Makassar. Perjalanan udara kami tempuh sekitar 1 jam 20 menit. Selama perjalanan saya tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan karena saya benar-benar tidak menyangka bisa mencapai tahap ini. Saya tidak sabar ingin segera sampai di tujuan karena saya ingin tahu bagaimana sebenarnya kota Makassar itu.baru

Pukul 07.20 WITA saya untuk pertamakalinya menginjakkan kaki di bandara Hassanudin , Makassar. Bandara yang masih baru dan belum diresmikan ini begitu megah dengan desain futuristik. Bentuk bangunannya hampir menyerupai bentuk teater di Australia. Setelah semua kontingen dari Jawa Timur berkumpul, kami dipilah-pilah menjadi beberapa kelompok sesuai pelajaran yang diikuti. Saya yang mengikuti bidang kebumian mendapat jatah penginapan di Grand Palace Hotel.




Sesampainya di hotel, peserta check-in dan mengurus administrasi olimpiade. Kebetulan, kontingen kebumian Jawa Timur yang berjumlah 9 orang termasuk saya, adalah kontingen pertama yang datang, maka kami memiliki banyak waktu luang untuk beristirahat sebelum melaksanakan agenda kegiatan esok hari.



Malam harinya, pada saat makan malam, adalah saat dimana seluruh kontingen dari seluruh provinsi di Indonesia berkumpul. Kesempatan ini saya pergunakan untuk berkenalan dengan mereka. Ada Vita dari SMAN 1 Magetan; Khrisna dari SMAN 3 Madiun; Rio, Adhit, dan Vera dari SMAN 3 Yogyakarta; Santoso dari SMA Kristen 1 BPK Penabur Jakarta; Ardy dari SMAN 48 Yogyakarta; Putri dan Uming dari SMAN 1 Depok; Kelly dari SMA kristen BPK Penabur Bandung; Christopher dari SMA ST. Thomas Medan; Angie dan Gloria dari SMA Lokon St. Nikolaus Sulawesi Utara; Thalita dari SMA Xaverius Bandar Lampung; Lia dari SMAN 2 Maros Sulsel; Danan dari SMAN 3 Denpasar; dan Dewi dari SMAN 1 Tanjungpinang. Mereka yang saya sebutkan adalah beberapa dari 92 peserta yang saya kenal dengan baik. Dari mereka saya mendapatkan pengetahuan tentang budaya, sekolah, dan daerah asal mereka masing-masing.

Keesokan harinya, seluruh peserta OSN baik dari SD, SMP, maupun SMA, dijadwalkan mengikuti Upacara Pembukaan OSN di halaman Gedung Gubernuran. Upacara dimulai pukul 11.00 WITAdan dibuka oleh Wakil Presiden RI, bapak Muhammad Jusuf Kalla. Wapres menegaskan pentingnya penguasaan sains bagi kemajuan bangsa. Tanpa sains, berarti tidak ada teknologi dan itu artinya tak ada kemajuan bangsa. Selain wapres, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menjanjikan bahwa negara akan membiayai sekolah siswa-siswi yang mampu meraih emas pada olimpiade tingkat internasional hingga sarjana strata tiga (S3) di perguruan tinggi manapun di dunia.

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pergelaran seni tari daerah seluruh Indonesia. Berbagai jenis tarian daerah dari Sabang sampai Merauke ditampilkan dalam acara ini. Acara pembukaan ini berlangsung meriah selama tiga perempet jam.












Hari ketiga di Makassar yaitu Minggu, 10 Agustus 2008, berlangsung tes tulis dan tes peraga. Seluruh peserta dibawa ke Fakultas Geologi Universitas Hassanudin yang berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota. Tes pertama yang saya jalani adalah tes tulis. 60 soal pilihan ganda dan 8 soal uraian saya kerjakan dalam waktu dua setengah jam. Seusai tes, semua peserta termasuk saya, merasa bahwa soalnya jauh lebih sulit dari soal seleksi tingkat provinsi. Kontingen Jawa Barat yang dibina oleh dosen ITB, kontingen Jogjakarta yang dibina oleh dosen UGM dan Jawa Tengah yang dibina oleh dosen UPN saja merasa kepayahan mengerjakan soal-soal tersebut apalagi saya yang tanpa pembinaan dosen.

Tes dilanjutkan dengan tes peraga. Dari 92 peserta dibagi menjadi 5 kelompok. Tiap kelompok akan memasuki lab Geologi dan mengerjakan 20 soal berdasarkan 20 benda/spesimen yang ada dihadapannya. Tiap spesimen dibatasi waktu 1 menit untuk mengamati dan menjawab soalnya. Setelah itu tiap orang berganti tempat untuk mengamati spesimen yang lain. Begitu terus sampai 20 spesimen diamati. Tes peraga ini jauh lebih mudah dibandingkan tes tulis. Semua peserta dapat mengerjakan tes ini dengan baik dan lancar. Spesimen yang diamati berupa fosil, batuan, dan replika struktur geologi.

Kegiatan hari berikutnya dalah tes lapangan. Pukul 06.00 WITA seluruh peserta berangkat ke kampus Lapangan Geologi Universitas Hassanudin di Daccipong , kabupaten Barru, Makassar, Sulawesi Selatan. Perjalanan ditempuh selama dua setengah jam dari Makassar. Kampus lapangan ini terletak di daerah pegunungan sehingga jalan menuju tempat tersebut berkelok-kelok dan membuat beberapa peserta mabuk dan pusing selama perjalanan.

Sesampainya di tujuan, kamio diberi pengarahan mengenai apa yang akan dilakukan. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok dan akan menuju 4 stasiun pengamatan yang berbeda untuk mengamati geomorfologi kawasan-kawasan yang dikunjungi. Keempat stasiun-stasiun pengamatan tersebut adalah Stasiun Petrologi, Stasiun Geomorfologi, Stasiun Paleontologi , dan Stasiun Geologi Struktur. Di tiap stasiun kami dibagikan lembaran soal yang berisi 3 soal pilihan ganda dengan tingkat kesulitan yang bervariasi.

Setelah tes selesai, dalam perjalanan pulang ke hotel, kami semua hanya terdiam karena selama dua hari tes ini, tenaga, otak, dan pikiran kami telah terkuras untuk mengerjakan soal. Namun kami merasa lega karena rangkaian tes tulis, peraga, dan lapangan telah kami jalani dengan lancar tanpa halangan suatu apapun. Kami sampai di hotel pukul 18.00 WITA.







Malam harinya, saya dan kontingen kebumian Jatim berinisiatif untuk pergi berwisata ke Pantai Losari. Dengan taksi kami menuju ke sana. Sepanjang perjalanan saya terkagum-kagum dengan keadaan kota Makassar di Malam hari. Sungguh, Makassar jauh lebih indah dan semarak di malam hari. Lampu-lampu toko, keramaian jalan raya, dan suasana kota metropolitan menambah kemeriahan kota itu. Beberapa menit kemudian, kami sampai di Pantai Losari. Pantai ini sangat indah. Kami begitu terpesona. Di pinggir pantai ada tulisan besar bertuliskan PANTAI LOSARI. Sepanjang pantai yang panjangnya kurang lebih 1,5 km ini terdapat pusat jajan serba ada atau terkenal dengan julukan “Meja Makan Terpanjang di Dunia”. Di sini tersedi berbagai macam makanan spesifik Makassarr seperti Pisang Epek, Pisang Ijo, Ikan Bakar, Tedong Pallu Basa, dan sebagainya.













Setelah lelah berjalan-jalan, berfoto-foto di anjungan Pantai, kami mampir ke sebuah restoran Ikan Bakar di dekat situ. Kami makan-makan, berkaraoke, dan menikmati malam itu sampai larut. Sekitar pukul 11.30 WITA kami baru sampai di hotel. Sebelum istirahat malam, dalam doa saya, saya mengucap syukur pada Tuhan karena hari ini saya berulangtahun yang ketujuhbelas dan saya telah merayakannya di pantai Losari bersama kontingen kebumian Jawa Timur. Unforgettable sweet seventeen for me! Saya begitu bahagia.











Keesokan harinya, 12 Agustus 2008, adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua peserta. Hari Rekreasi Edukatif. Sekitar pukul 08.00 WITA kami berangakat ke objek wisata pertama yaitu Benteng Fort Rotterdam. Benteng ini merupakan salah satu peninggalan sejarah kerajaan Gowa pada abad ke-17. di dalam benteng ini terdapat Museum La Galigo yang menyimpan berbagai benda bersejarah, manuskrip, patung, keramik, pakaian-pakaian tradisional, dan berbagai macam benda budaya masa lampau dari berbagai etnik di Sulsel. 2 jam kami berada di situ, setelahitu kami beralih ke objek wisata kedua yaitu Taman Nasional Bantimurung.













Taman Nasional Bantimurung adalah objek wisata andalan Sulawesi Selatan. Semua keindahan alam ada di sini. Mulai dari Taman Kupu-kupu Bantimurung, Air Terjun Bantimurung sampai Gua bantimurung jadi satu di sini. Di taman kupu-kupu, ribuan spesies awetan kupu-kupu terpajang rapi. Kitapun dapat membeli oleh-oleh berupa gantungan kunci, kalung, hiasan dinding yang berhiaskan awetan kupu-kupu asli.

Air terjun adalah kawasan yang paling rami dikunjungi. Ini karena para wisatawan dapat bebas bermain air di situ. Selain itu pemandangan air terjun dan perbukitan yang mengelilinginya sangat indah. Udara di situ juga belum terpolusi.

Kawasan lain yang juga diminati adalah Gua Bantimurung. Sayangnya, jalan menuju gua cukup jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki. Di samping itu, gua tersebut masih sangat alami dan belum dilengkapi dengan lampu penerangan dan penunjuk jalan sehingga kami terpaksa menyewa senter. Tak jarang ada salah seorang dari kami yang salah langkah dan terperosok ke lubang atau cekungan kecil.

Rekreasi hari ini benar-benar membuat kaki kami pegal-pegal. Padahal, malamnya masih ada satu kegiatan yang tak kalah penting dan menyenangkan yaitu, Jamuan Makan Malam Gubernur Sulawesi Selatan.dan Pergelaran Seni. Acara dimulai pukul 19.00 WITA. Dalam acar ini seluruh peserta OSN, tanpa dikomando langsung menyerbu makanan yang dihidangkan, seperti coto makassar, sop saudara, pisang epek, dan lain-lain. Saya beruntung dapat mencicipi Coto dan pisang epek asli Makassar. Coto adalah olahan daging yang disajikan dengan lontong dan perasan jeruk nipis. Sedangkan pisang epek adalah pisang bakar yang dimemarkan dan diberi topping gula cair. Hmm... pusat oleh-oleh

Rabu, 13 agustu 2008 adalah Hari Bebas. Kesempatan ini kami pergunakan untuk berburu oleh-oleh berupa Dodol Markisa, Buah Markisa, Sirup Markisa, Kopi Toraja , dan sebagainya. Kami membelinya di pusat oleh-oleh di suatu jalan di dekat Pantai Losari.











Sorenya adalah rangkaian acara terakhir OSN yaitu penutupan dan Pengumuman Pemenang. Upacara ditutup oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo di Balai Prajurit, Makassar. Setelah itu diumumkan peraih medali dari tiap pelajaran mulai dari SD-SMA. Sedikit kecewa karena saya tidak meraih medali. Tapi itu bukan masalah karena saya sudah mendapat begitu banyak pengalaman berharga di ajang OSN ini.

Untuk mata pelajaran kebumian, medali emas diraih oleh Urwatul Wusqa dari MAN Insan CendekiaGorontalo, Zainal Imron Hidayat dari SMAN 1 Banjarnegara, Rio Priandri dari SMAN 3 Jogjakarta, dan Darmadi dari SMAN 8 Jogjakarta.

Hasil akhirnya, peraih juara umum tahun ini adalah provinsi DKI Jakarta, kemudian Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Barat, Dan Sumatera Utara. Bagaimana dengan Jawa Timur? Jawa Timur hanya memperoleh peringkat 6. turun 2 tingkat dari tahun kemarin yang menduduki peringkat 4. ini disebabkan karena Jawa Timur tahun ini tidak mengadakan pembinaan provinsi. Sungguh-sungguh sangat disayangkan. Potensi yang begitu besar tidak dipupuk dan ditumbuhkembangkan.

Melalui tulisan ini saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan. Karena atas anugrah Tuhan saya bisa meraih apa yang saya impi-impikan sejak saya masuk SMA yaitu ingin menjadi peserta OSN. Tak lupa, saya ingin berterimakasih kepada pembina saya, bapak Rusdiyanto. Terimakasih atas bimbingannya sejak dari persiapan seleksi kabupaten hingga mencapai tingkat nasional. Selain itu kepada semua guru dan pihak-pihak yang telah membantu saya, teman-teman dari XII IPA 3, terima kasih atas dukungan kalian...

2 komentar:

  1. eXCeLLent 4 U!!!
    aQ Org Sul-Sel skrg kliah d Mks,,,
    Oh..ya blognya keren bangeth,,
    Kpn yah,,Aq bs bkin blog kaya' poex Clara???
    By: Lia cweetz

    BalasHapus
  2. siip kamu pasti bisa kok :D selalu berusaha!

    BalasHapus

tinggalkan komentar Anda

who follows me